BANDUNGKITA.ID – Kabupaten Bandung
Setelah kritik tajam dilayangkan oleh sejumlah jurnalis dan pegiat informasi terkait dugaan “kastanisasi media” oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Bandung, Kepala Diskominfo Teguh Purwayadi akhirnya angkat bicara.
Dalam wawancara singkat bersama BandungKita.id, Teguh membantah keras tuduhan bahwa pihaknya menciptakan jurang pemisah antara media. Ia menegaskan bahwa dirinya dan Bupati Dadang Supriatna justru berkomitmen untuk merangkul semua insan pers tanpa kecuali.
“Terima kasih atas informasinya, Kang. Menuduh kami menciptakan jurang pemisah itu berlebihan. Saya dan Pak Bupati sudah sepakat bahwa kami harus dekat dengan semua media. Jangan sampai justru media yang membenturkan kami satu sama lain,” ujar Teguh, Rabu (8/1).
Pernyataan ini merespons laporan sebelumnya yang menyebut bahwa pola kerja Diskominfo saat ini cenderung membangun eksklusivitas, hanya melibatkan media tertentu, dan mengabaikan jurnalis lokal yang kritis. Kritik tersebut menyebutkan bahwa ruang partisipasi publik digantikan oleh pencitraan, dan media sosial pemerintah dipenuhi komentar artifisial tanpa ruang debat yang sehat.
“Saya Bekerja Karena Allah, Bukan untuk Membeda-bedakan”
Saat ditanya apakah pola kerja sama media yang dibangun Diskominfo bersifat “mainstream centris” yakni hanya mengakomodasi media besar dan mengabaikan media lokal independen—Teguh menjawab dengan nada religius:
“Insya Allah saya bekerja lillahita’ala, Kang. Tidak pernah membeda-bedakan jurnalis,” tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa seluruh program dan kegiatan Diskominfo selalu dilaporkan kepada Bupati sebagai bentuk pertanggungjawaban administratif dan politik.
“Insya Allah semua bentuk program dan kegiatan pasti saya laporkan ke Pak Bupati,” tambahnya.
Soal “Dibenturkan Media”
Menariknya, Teguh sempat menyebut istilah “dibentur-benturkan oleh media” dalam pernyataannya. Saat diminta klarifikasi, ia menjelaskan bahwa itu bukan tudingan, melainkan bentuk kehati-hatian.
“Maksudnya jangan sampai, Kang. Tentu saya ingin baik kepada semua pihak,” ujarnya.
Redaksi BandungKita.id mengapresiasi keterbukaan Kadiskominfo dalam memberikan klarifikasi. Namun, kritik dari parq Jurnalis tetap menjadi catatan penting. Ruang partisipasi jurnalis lokal, transparansi anggaran komunikasi, serta kualitas konten publik masih menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diselesaikan hanya dengan niat baik.
Mereka (Jurnalis) percaya, komunikasi publik yang sehat bukan hanya soal kedekatan, tapi juga soal keberanian membuka ruang kritik, memperkuat narasi kebijakan, dan menghindari dominasi satu arah.
Sebelumnya, Alih-alih memperkuat sinergi dengan para buruh pena, Diskominfo disebut-sebut membangun sistem kerja yang elitis dan eksklusif.
“Ada semacam kastanisasi media. Wartawan seolah dikotak-kotakkan. Media luar mendapatkan keistimewaan termasuk gelontoran anggaran, sementara media dan wartawan lokal hanya jadi penonton,” ujar seorang jurnalis senior yang enggan disebutkan namanya.
Selengkapnya
(Joe/BandungKita.id)





Comment