by

Situ Cimeuhmal : Potensi Besar Sektor Wisata yang Belum Digali Secara Optimal

BandungKita.id, SOREANG – Jika mendengar kata Situ Patenggang di Ciwidey atau Situ Ciburuy di Bandung Barat mungkin sebagian orang merasa sudah tak asing lagi karena sempat berkunjung atau mendengar dari bait sebuah lagu. Namun tak kala disodorkan nama Situ Cimeuhmal, kita mungkin akan sedikit mengerutkan dahi dan balik bertanya, di mana letak Situ itu?

Pertanyaan tersebut memang wajar dilontarkan Sebagian masyarakat karena status situ tersebut belum dikelola secara optimal. Baik oleh dinas pariwisata atau pun Perhutani sebagai pemilik lahan.

Padahal, danau yang secara administratif berada di Kampung Kiara Payung RW 16, Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung itu menyimpan segudang potensi wisata yang besar.

Suasa alam asri, udara yang sejuk, serta letak danau yang dikelilingi hutan pinus membuat tempat ini cocok jadi tempat melepas penat dari hiruk-pikuk kota.

Jika hendak berkunjung ke tempat ini dari kota Bandung, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 23,3 Km.

Meski cukup jauh, namun pemandangan hamparan gedung-gedung, pemukiman warga, dan persawahan yang dilihat dari ketinggian sepanjang perjalanan, menjadi panorama pelipur letih. Perjalanan pun tak akan terasa melelahkan.

Nama Cimeuhmal konon diambil dari nama sebuah pohon yang tumbuh di lokasi situ bernama meuhmal. Dahulu, warga menyebut situ itu sebagai Situ Ermat, merujuk pada seorang sesepuh yang kerap berkholwat di tempat itu.

Suasana di Situ Cimeuhmal di Kampung Kiara Payung RW 16, Desa Banjaran Wetan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung.

Di Situ Cimeuhmal, pengunjung juga dapat melihat lanskap kokohnya Gunung Malabar dengan varian koleksi flora dan faunanya, berswafoto, bersantai dengan hammock atau camping bersebelahan dengan situ.

BACA JUGA:

Dituntut 11 Tahun Penjara, Begini Tanggapan Kuasa Hukum Pengeroyok Haringga

 

Mengenang Kejayaan Kereta Api Rute Ciwidey-Soreang

 

Meski belum dikelola secara resmi, keasrian Situ Cimeuhmal tetap dirawat oleh masyarakat sekitar yang tergabung dalam Kelompok Pengelola Situ Cimeuhmal (KPLSC). Sebuah organisasi binaan dari Kelompok Anak Pencinta Alam Semesta (KAPAS).

Dengan segala keterbatasan, KPLSC berupaya memanfaatkan potensi situ Cimeuhmal menjadi nilai ekonomi bagi masyarakat, namun tetap menjaga kelestarian hutan.

“Tiap hari Jumat kami bersih-bersih di sini, kami juga mengingatkan kepada pengunjung agar menjaga kebersihan lingkungan dan kualitas air dari situ,” kata ketua KPLSC, Yana Rudiana (37).

Yana sadar bahwa untuk menjadi tempat wisata, Situ Cimeuhmal masih dinilai belum layak. Pasalnya, akses jalan menuju situ masih rusak parah, sehingga ia dan bersama masyarakat sekitar tidak pernah menetapkan tarif khusus bagi pengunjung yang datang.

“Jalan menuju situ masih buruk, kami tidak pernah memungut biaya kepada pengunjung. Silakan saja bagi yang mau datang, asal jaga kebersihan. Malah, kami sering kerja bakti dan mengeluarkan uang pribadi untuk memperbaiki jalan,” paparnya.

Bagi Yana dan masyarakat Desa Banjaran Wetan hadirnya situ Cimeuhmal bukan saja sebagai sektor wisata, namun juga tempat warga menggantungkan kebutuhan akan air.

Situ itu, kata Yana telah berhasil secara konsisten mengairi pertanian warga baik musim hujan atau musim kemarau.

“Pengairan pertanian warga seluasa 6 ha stabil baik saat musim hujan atau musim kemarau,” jelasnya.

Sumber mata air Situ Cimeuhmal ada tiga yaitu mata air Balongg Mandor, Cikahuripan, dan Kadal Mateng. Dengan hadirnya tiga mata air itu, situ ini tak akan kekeringan saat kemarau.

“Jadi potensi di sini bukan saja sektor wisata, tapi juga sebagai sumber air,” ucap Yana.

Dengan hadirnya dua potensi itu, ia ingin pemerintah hadir untuk mengoptimalkan potensi yang ada, terutama akses jalan yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Meski belum dikelola secara serius, Yana memprediksi pengunjung yang datang ke tempat ini bisa mencapai 400 orang tiap bulan.

“Di sini potensinya besar, pemerintah harusnya hadir, minimal perbaikan jalan,” pungkasnya. (Restu Sauqi/Bandungkita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment