Koalisi Masyarakat Sipil Bandung Kecam Kekerasan Aparat di May Day 2019

BandungKita.id, BANDUNG – Sejumlah lembaga yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Bandung gelar konferensi pers menyikapi represif aparat kepolisian pada aksi May Day di Kota Bandung, Rabu (1/5/2019).

Lembaga yang tergabung di antaranya, Konfederasi Serikat Nasional (KSN), Gerakan Rakyat Anti Kapitalis (Gerak), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Bandung.

Direktur Utama LBH Bandung, Willy Hanafi menyebut aksi represif dan penangkapan sewenang-wenang terhadap massa aksi berpakaian hitam-hitam oleh aparat Kepolisian tidak memiliki dasar hukum yang jelas.

“Tidak ada regulasi yang membenarkan penangkapan sewenang-wenang dan penghukuman tanpa pengadilan oleh aparat,” ujarnya kepada awak media.

Dari monitoring yang dilakukan LBH Bandung, pihaknya mendata ada beberapa tindakan aparat yang dinilai menggunakan kekerasan dan penghukuman tanpa melalui pengadilan.

“Massa ditangkap lalu ditelanjangi di muka umum (Monumen Perjuangan). Lalu dibawa ke Polrestabes. Di sana mereka digunduli lalu disemprot pilok ditubuhnya tanpa alasan atau dasar hukum yang jelas,” paparnya.

BACA JUGA:

Ini Tanggapan Kapolrestabes Bandung Soal Dugaan Kekerasan yang Dilakukan Anggotanya Terhadap Wartawan

 

Oknum Polisi Diduga Lakukan Kekerasan Terhadap Jurnalis Saat Liput May Day di Bandung, Begini Kronologisnya

 

Menurutnya, penangkapan pidana hanya bisa dilakukan jika ada surat penangkapan dan nama yang ditangkap memiliki status saksi atau tersangka.

“Tidak ada surat penangkapannya. Apa mereka tersangka atau saksi tidak ada,” kata Willy.

Sementara itu, korban pemukulan aparat, Faris (24), mengaku dirinya dipukul sebanyak tiga kali dan dimaki-maki dengan perkataan kasar oleh aparat.

“Saya dipukul 3 kali di kepala saya. Saat ini masih ada luka di bibir,” terangnya.

Faris seorang pemuda yang mengalami keterbatasan fisik menjadi salah satu korban amuk aparat dengan penangkapan sewenang-wenang menggunakan kekerasan. Setelah dipukul, dirinya dipaksa masuk ke dalam truk aparat.

“Di dalam truk pun masih mendapat perlakuan kasar. Polisi memaki maki mengatakan ‘kamu cacat juga masih ikut ikutan May Day’,” serunya menirukan gaya aparat yang memakinya.

Setelah dimasukan ke truk, dirinya mengaku di bawa ke Polrestabes Bandung. Karena tidak mendapatkan bukti kuat, maka Faris dibebaskan.

“Karena gak ada bukti yang nuduh ke saya, akhirnya saya dibolehkan pulang,” pungkasnya.

Dari tindakan aparat yang sewenang-wenang tersebut, Koalisi Masyarakat Sipil Bandung mengecam tindakan represif aparat pada aksi Mayday 2019 di Kota Bandung.

Lebih jauh, pihaknya menuntut agar Kapolrestabes Kota Bandung, Kombespol M Irman dicopot dari jabatannya.***(Bagus Fallensky/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Comment