oleh

Terus Produksi Alquran, Mesin Cetak Braile Tertua di Dunia Ada di Bandung dan Masih Beroperasi

BandungKita.id, BANDUNG – Bulan Ramadan erat kaitannya dengan aktifitas ibadah, salah satunya membaca Alquran. Tak hanya bagi masyarakat pada umumnya, masyarakat tunanetra juga melakukan ibadah tersebut dengan menggunakan Alquran braile.

Tapi belum banyak yang tahu bahwa salah satu mesin percetakan Alquran braile tertua di dunia ternyata ada di Kota Bandung atau lebih tepatnya di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG).

Menurut kepala sekretariat YPWG, Ayi Ahmad Hidayat, mesin cetak braile tersebut merupakan salah satu dari 6 mesin cetak braile yang diproduksi pada 1950 oleh pabrik Thompson di Amerika atau yang tertua di dunia.

“Jadi yang 6 mesin cetak itu dipesan seseorang namanya Helen Keller, ia seseorang yang tuli bisu dan buta namun pintar hingga ia punya gelar doktor dan peduli pada kaum tunanetra. Akhirnya membeli 6 mesin tersebut dan dibagikan ke berbagai negara yang banyak kaum tunanetra, salah satunya Indonesia,” kata Ayi saat ditemui BandungKita di kantornya, Sabtu (11/5/2019).

Petugas mencetak lembaran Alquran braile di Sekretariat di Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Jalan Padjadjaran Kota Bandung, Sabtu (11/5/2019).(Tito Rohmatullah/BandungKita.id)

 

Setelah diproduksi pada tahun 1950 tersebut, mesin cetak braille dikirim ke Jakarta pada tahun 1952 dan langsung diterima oleh presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno.

“Jadi di Jakarta itu mesin ini tinggal selama 10 tahun di sana, baru kemudian pada 1962 dikirim ke Bandung karena ada Bandung Blinden Institut (BBI) yang didirikan oleh Dokter Westhof, yang mendirikan Bandung Blinden dan Institut pada 1901,” kata Ayi.

Pada awal kedatangan mesin tersebut ke Kota Bandung, Ayi menjelaskan hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pembelajaran di BBI namun akhirnya dimanfaatkan secara internasional pada tahun 1972.

BACA JUGA :

Miris! Tak Diperhatikan Pemerintah, Di Sekolah Ini Satu Ruangan Digunakan Oleh Tiga Kelas dan Berdesak-desakan

 

Targetkan 1.000 Penghafal Alquran di Setiap Kelurahan, Wali Kota Bandung Resmikan Sekolah Tahfiz Usia Dini

 

Membaca Alquran di Mushaf atau Ponsel, Mana Lebih Utama?

 

“Jadi sempat juga membuat buku pelajaran namun karena terus-terusan berubah, sementara mesin ini menggunakan cetakan braile yang sulit berganti-ganti maka pembuatan buku pelajaran Braille dihentikan dan fokus memproduksi naskah Alquran karena polanya tidak berubah-ubah,” kata Ayi.

Ayi bercerita, sebelum lembar-lembar Alquran tersebut dicetak seperti saat ini, satu tokoh yang berjasa besar adalah Abdullah Yatimpiatu, seorang pengamat yang mampu menerjemahkan tulisan al-qur’an Arab menjadi Al-qur’an Arab braille.

“Beliau dalah seorang pemerhati dan karyawan di Departemen Sosial, kemudian coba mentranslate Alquran biasa ke dalam Alquran menjadi huruf braille itu pada tahun 1976 sampai 1978. Baru pada tahun 1984 dikirim ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Jakarta,”

Hingga kini, mesin berusia lebih dari setengah abad tersebut terus beroperasi meski butuh perawatan yang sangat rutin. Jika tidak, maka proses pencetakan Alquran braile bisa terhambat.

“Saat ini memang ada LSM yang selalu memesan ke kita dan disebarkan ke seluruh Indonesia, tapi pernah juga kita kirim ke luar negeri seperti Kuwait, Singapura, Malaysia. Mungkin karena memproduksi Alquran jadi mesin tetap lancar aja,” ujar Ayi. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor : M Zezen Zainal M

Komentar