by

Pemkot Bandung Galau Soal Rekayasa Lalin Kawasan Sukajadi, Pengamat: Malah Membuat Titik Kemacetan Baru

BandungKita.id, BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung akhirnya melakukan evaluasi atas rekayasa lalu lintas di kawasan Sukajadi. Terkait hal tersebut, pengamat tata kota Institut Teknologi Bandung (ITB), Frans Ari Prasetya mengaku tidak heran lantaran pihaknya menilai, sejak awal Pemkot tidak matang melakukan kajian rekayasa tersebut.

“Bahwa dengan adanya rekayasa lalu lintas tersebut, alih-alih mengurai kemacetan malah membuat titik kemacetan baru,” kata Frans saat ditemui BandungKita.id di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jl. Sekeloa Selatan, Jumat, (11/10/2019).

 

BACA BUKU :

 

 

Di sisi lain kata Frans, pengguna jalan sudah memiliki kebiasaan atau kultur berkendara melalui jalan yang selama ini biasa digunakan. Rekayasa tersebut salah satunya sangat berdampak pada para pengemudi angkot yang kebingungan menentukan rute sehingga pengeluaran menjadi lebih besar.

Begitu juga dengan para penumpang angkutan umum. Alih-alih ingin praktis menggunakan angkot, dengan adanya rekayasa lalu lintas ini para penumpang dibuat ribet dan bingung. Dimana mereka harus turun dan naik angkot untuk sampai ke tempat tujuan.

 

BACA JUGA :

Mengurai Kemacetan, Bandung Akan Miliki 3 Flyover Tahun 2020

 

 

“Artinya Pemkot hanya melakukan rekayasa lalu lintas, tanpa memikirkan bagaimana rute angkot serta efisiensi bagi para penumpang,” lanjut frans.

Parahnya lagi, di kawasan tersebut terdapat beberapa pusat perbelanjaan yang jadi favorit banyak warga, tak hanya dari Bandung tapi dari luar Kota terutama yang datang dari arah tol Pasteur.

” Saya kira ini yang tidak dikaji oleh Pemkot sehingga sekarang plin-plan dalam menentukan keputusan, dari awal rencananya akan dipatenkan tapi tiba-tiba sekarang dievaluasi lagi,” ujarnya.

 

BACA JUGA :

Atasi Kemacetan, Dua Jembatan Layang Akan Segera Dibangun di Kota Bandung : Ini Lokasinya

 

 

Pihaknya menilai Pemkot Bandung seperti tidak mengerti terkait klasifikasi jalan, menurutnya Jalan Raya ada beberapa jenis, yaitu sekunder, primer, dan tersier setiap jenis Jalan mempunyai kapasitas dan luas yang berbeda.

“Jenis Jalan sekunder luas nya sekian, maka kapasitas kendaraan yang melintas pun jumlahnya sudah bisa ditentukan, nah dengan rekayasa tersebut akhirnya semua kendaraan masuk ke jalan yang secara kapasitas bukan peruntukannya,” Kata Frans

“Akhirnya terjadi penumpukan dan berpengaruh pada laju kecepatan kendaraan hingga akhirnya macet timbul di mana-mana,” Pungkasnya. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

 

Comment