by

Warga Dua Desa Minta PT Wisata Karya Tempuh Perizinan dan Penuhi Tuntutan Warga Terdampak

Warga Sudah Merasakan Dampak Negatif

BandungKita.id, KAB BANDUNG – Warga di dua desa yakni warga Desa Pasirjambu, Kecamatan Pasirjambu dan warga Desa Sukawening, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung menuntut PT Wisata Karya Sentosa, selaku pemrakarsa atau pengembang rencana lokasi wisata berkonsep agrowisata di daerah tersebut untuk memenuhi sejumlah tuntutan warga terdampak.

Pasalnya meski rencana lokasi wisata masih dalam proses pengurusan perizinan dan pembebasan lahan, warga di dua desa sudah merasakan dampak negatif keberadaan rencana proyek pembangunan kawasan agrowisata yang direncanakan memiliki luas sekitar 500.000 M2 atau sekitar 50 hektare (ha) yang mencakup dua desa yakni Desa Sukawening dan Desa Pasirjambu tersebut.

Tokoh masyarakat RW 03 Desa Sukawening, H Alif mengatakan rencana pembangunan kawasan agrowisata di Desa Sukawening akan sangat berdampak terhadap warganya. Ia meminta pihak PT Wisata Karya Santosa selaku pengembang dapat menempuh proses perizinan dan proses analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sesuai aturan sehingga tidak menimbulkan masalah berkepanjangan di kemudian hari.

“Kami juga minta pengembang untuk meminimalisir dampak negatif yang muncul seperti gangguang keamanan, konflik sosial dan keagamaan di wilayah kami. Apalagi sampai detik ini, tidak ada seorang pun warga kami yang diakomodir sebagai tenaga kerja dalam proses perencanaan ini,” ujar H Alif saat kegiatan Konsultasi publik penyusunan AMDAL PT Wisata Karya Sentosa di Desa Sukawening, Ciwidey, Kamis (25/3/2021).

BACA JUGA :

Astaraja Dewi Hurip: Wisata Baru di Kabupaten Bandung Miniatur Grand Canyon Pangandaran

Yayasan Panata Giri Raharja Siap Kawal Pacira Sebagai Kawasan Wisata Kelas Dunia di Kabupaten Bandung

Hal senada juga diungkapkan oleh Sukarman (60), tokoh masyarakat RW 02 Desa Sukawening. Selain berharap rencana pembangunan kawasan agrowisata di dua desa tersebut dapat meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat setempat, Sukarman meminta PT Wisata Karya jangan sampai merusak lingkungan.

“Kami minta agar pihak perusahaan betul-betul serius memperhatikan dampak negatif yang timbul terutama kami minta jangan sampai lokasi wisata ini bertolak belakang dengan kondis masyarakat kami yang agamis. Jangan ada kemaksiatan,” ujar Sukarman.

Tokoh masyarakat Kampung Narogong, Ust Ridwan menambahkan meski pembangunan belum dimulai, saat ini warga khususnya para petani sudah merasakan dampak negatif terhadap lahan pertanian warga yang diserang hama tikus berlebihan akibat terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Menurutnya, hasil panen petani menurun drastis akibat serangan hama tikus tersebut.

“Kami warga di sini tidak akan dulu mengizinkan jika kami belum tahu mau seperti apa pembangunannya. Kami akan lihat dulu ke depan akan seperti apa. Karena saat ini saja, kami sudah merasakan dampak negatif seperti serangan hama tikus,” jelas Ridwan seraya berharap pihak perusahaan juga dapat menampung tenaga kerja dari warga setempat.

“Gara-gara alih fungsi lahan dan pengelolaan sawah yang tidak serempak, serangan hama tikus meningkat. Hasil panen menurun 50 persen. Kami minta perhatian pihak PT Wisata Karya. Hal ini karena banyak sawah yang dijual tidak digarap sehingga jadi banyak hama tikus,,” timpal Iyong (58), warga lainnya.

Ia juga meminta pihak PT Wisata Karya untuk memikirkan nasib para petani penggarap dan buruh tani yang kehilangan mata pencaharian akibat lahannya dibebaskan dan dialihfungsikan menjadi areal wisata. Tak hanya itu, warga terdampak pun diharapkan dapat diserap sebagai tenaga kerja baik buruh kasar, tukang hingga tenaga ahli atau pekerja operasional sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

Ahmad Solihin (45), tokoh masyarakat Desa Sukawening juga mempertanyakan proses perizinan dan sosialisasi Amdal yang dilakukan PT Wisata Karya Sentosa. Ia mengaku heran mengapa izin lokasi diklaim sudah keluar, padahal warga setempat belum memberikan izin atau persetujuan yang menjadi syarat terbitnya izin tetangga. Surat izin tetangga menjadi salah satu syarat penting dalam pengajuan Surat Izin Tempat Usaha (SITU) dan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP).

Surat undangan kepada warga untuk mengikuti sosialisasi penyusunan AMDAL PT Wisata Karya Sentosa di Desa Sukawening, Ciwidey, Kamis (25/3/2021). (M Zezen Zainal M/BandungKita.id).

“Ini kenapa disebutkan sosialisasi Amdal lanjutan, padahal ini baru pertama kali dilakukan sosialisasi. Selain itu, setahu saya Desa Sukawening secara tata ruang masuk kawasan pertanian lahan basah, artinya tidak bisa dibangun,” ujar Ahmad Solihin.

Harapan dan permintaan warga pun diperkuat oleh pernyataan Kepala Desa Sukawening, Hamdani. Sang Kepala Desa berharap rencana pembangunan kawasan agrowisata di desanya dapat menguntungkan kedua belah pihak terutama bagi warganya. Jika tidak ada manfaat buat warga desanya, apalagi sampai merusak lingkungan, ia mengaku tidak setuju pembangunan kawasan wisata tersebut.

“Rencana pembangunan kawasan wisata ini jangan sampai merugikan warga kami. Apa kontribusinya buat masyarakat. Apa manfaatnya buat masyarakat kami. Itu harus jelas dulu,” ujar Hamdani.

Ia juga meminta agar PT Wisata Karya juga menempuh perizinan dengan benar dan sesuai aturan. “Saya selaku kepala desa belum mengeluarkan izin tetangga. Warga belum tanda tangan apa-apa. Dan kalau pun ada tanda tangan, itu tanda tangan pemilik lahan yang menjual. Itu jangan dipakai izin (karena bukan tanda tangan persetujuan),” tambah dia.

Sang Kepala Desa juga meminta agar PT Wisata Karya Sentosa jangan sampai merusak lingkungan dan menghilangkan mata pencaharian warganya. Selain itu, ia meminta agar aspirasinya warganya yang meminta agar keberadaan kawasan agrowisata tersebut jangan sampai merusak tatanan masyarakat Desa Sukawening yang agamis serta memegang teguh adat istiadat serta kearifan lokal yang berlaku di masyarakat.

“Dulu saya sempat tanya ke owner-nya, mau dibikin apa tanah yang dibebaskan itu? Kataya dia jawab mau dibikin agrowisata dan tidak akan merusak lingkungan. Saya minta komitmen itu dikedepankan. Saya enggak mau daerah saya dirusak,. Selain itu tolong norma agama disisipkam karena masyarakat kami agamis,” tutur Sang Kepala Desa.

Demi meminimalisir dampak negatif berupa konflik sosial, Hamdani meminta agar pihak perusahaan pengembang juga dapat mengakomodir warganya menjadi tenaga kerja mulai dari proses perizinan, pembangunan hingga nanti setelah beroperasi.

“Tolong akomodir warga kami sebagai tenaga kerja. Kalau bisa dibikin surat pernyataan dan kesepakatan. Ini demi kepentingan masyarakat, bukan kepentingan saya,” tandas Sang Kepala Desa Sukawening.

BACA JUGA :

Situs Bumi Alit Kabuyutan: Potensi Wisata Budaya di Kabupaten Bandung

Pecinta Alam Kabupaten Bandung Gelar Kemah Sumpah Pemuda di Ciwidey, Begini Pesan Acil Bimbo dan Dadang M Naser

PT Wisata Karya Akui Kurang Sosialisasi

Terpisah, perwakilan pihak PT Wisata Karya Sentosa, Saep mengakui bahwa selama ini pihaknya memang masih kurang melakukan sosialisasi kepada masyarakat di dua desa yakni Desa Sukawening dan Desa Pasirjambu sehingga masih banyak masyarakat yang kurang mengetahui rencana pembangunan kawasan agrowisata di daerah tersebut.

“Mohon maaf, jujur kami memang mungkin kurang sosialisasi. Ini karena kami belum melakukan apa-apa. Belum ada pekerjaan apa-apa. Baru pembebasan lahan, itu pun dilakukan oleh pihak ketiga,” ujar Saep.

Saep menyatakan pihaknya akan menampung dan siap mengakomodir seluruh masukan dan aspirasi yang disampaikan masyarakat. Sebab, kata dia, sejak awal pihaknya berkomitmen untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat serta tidak merusak lingkungan.

“Mohon maaf bila ada pertanyaan kenapa warga setempat belum banyak yang kerja di PT Wisata Karya? Karena memang kita belum ada kegiatan. Tapi kami siap mengakomodir warga sekitar untuk menjadi tenaga kerja. Kami juga minta ke rekanan kami untuk memprioritaskan tenaga kerja dari warga setempat. Itu bentuk kepedulian kami. Semua masukan akan kami sampaikan,” jelas Saep.

PT Wisata Karya Sentosa, kata dia, berkomitmen untuk memprioritaskan tenaga kerja dari warga setempat mulai dari prapembangunan, saat pembangunan hingga ketika sudah beroperasi selama sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

“Kami sudah buktikan di Pasirjambu, mayoritas tenaga kerja dari warga setempat. Nanti insya Allah di Sukawening, tenaga kerjanya diprioritaskan dari warga Sukawening,” tambah dia.

Proses Amdal Diklaim Sesuai Aturan

Perwakilan dari pihak konsultan perencana yakni PT Widya Cipta Buana, Apriani menambahkan kawasan agrowisata yang akan dibangun PT Wisata Karya Sentosa rencananya akan memiliki luas sekitar 50 hektare dan berada di dua desa yakni Desa Pasirjambu dan Desa Sukawening. Namun saat ini, proses pembebasan lahan baru mencapai 40 hektare.

Menurutnya, sejak awal pihak perusahaan berkomitmen untuk menempuh perizinan secara normatif sesuai aturan yang berlaku termasuk dalam pengurusan Amdal. Pihak perusahaan, kata dia, menempuh proses perizinan Amdal dengan menempuh aturan termasuk melakukan konsultasi publik demi menyerap masukan dan aspirasi dari masyarakat terdampak.

“Sesuai aturan Menteri Lingkungan Hidup, usaha wisata yang akan kami jalankan wajib menempuh proses Amdal dan sebagai prasyarat, kami memenuhi konsultasi publik sesuai Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021. Dan sebelum melakukan konsultasi publik kami sudah memiliki izin lokasi dan sudah membebaskan 40 hektare dari rencana 50 hektare,” kata Apriani.

Menurutnya, dari 50 hektare yang direncanakan, sekitar 50 persen akan tetap menjadi ruang terbuka hijau. Sisanya akan dibangun bangunan dan fasilitas penunjang agrowisata seperti resort atau penginapan, camping ground, musala, danau kecil, restoran, tempat bermain anak, hingga tempat parkir sehingga tidak terlalu menganggu arus lalu lintas di Jalan Raya Ciwidey-Pasirjambu.

“Kami berkomitmen menyerap tenaga kerja lokal sesuai kualifikasi. Kami juga akan betul-betul untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan. Selanjutnya, saran dan masukan warga ini akan kami tampung dan dimasukkan ke dokumen Amdal dan akan menjadi kerangka acuan bagi kami,” jelasnya. (M Zezen Zainal M/BandungKita.id).

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Comment