oleh

Budidaya Bibit Ikan Mas Kabupaten Bandung di Tengah Ancaman Alih Fungsi Lahan dan Harga Pakan yang Terus Melambung

Bandungkita.id, SOREANG – Uwef (47), berjalan mengelilingi kolam milik majikannya di Kampung Ciganitri, Desa Lengkong, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, dengan menenteng ember berisi pakan ikan. Tiap dua atau tiga langkah, ia berhenti untuk menabur pakan.

Di dalam kolam, ratusan ikan mas sebesar jari kelingking, tampak sibuk berebut hujan makanan. Sambil terus berjalan dan melemparkan pakan, lelaki itu seolah mengajak bicara ikan-ikan di dalam kolam.

Tong parebut, agehan nu lain, sing salabar, sing geura gede, harga pelet keur mahal.”

Ungkapan Uwef itu terdengar aneh jika diucapkan kepada ikan yang tak bisa berkomunikasi dengan manusia. Namun, hal itu bisa menggambarkan bahwa lelaki paruh baya itu tengah berdoa agar ikan dalam kolam segera tumbuh besar di tengah kondisi harga pakan yang sedang naik.

“Harga pakan ikan tak pernah turun, terus naik dari tahun ke tahun. Sekarang mencapai Rp.900.000 per kuintal,” katanya.

Kondisi tersebut memaksa Uwef harus mengurangi jatah makanan ikan miliknya. Jika tahun 2005 ia biasa membeli 1 ton pakan per bulan, kini ia hanya sanggup membeli 7 kuintal. Padahal, ikan Mas yang dibudidayakan jumlahnya tetap sama, yaitu 75 liter atau 20 Kg.

Dengan keputusan tersebut, Uwef mengaku waktu panen ikan jadi lama. Semula bisa dipanen dalam waktu 21 hari, kini harus memakan waktu 30 hari.

“Saya kan budidaya ikan Mas bibit, harusnya 21 hari juga bisa dipanen. Karena pakan dikurangi, kita baru bisa panen pada hari ke 31 sejak ikan dilepas,” ucapnya.

BACA JUGA:

Tanggulangi Masalah Sampah, Kementerian LHK Serahkan Fasilitas Pengolahan Sampah Bagi 6 Kabupaten/Kota di Jawa Barat

 

Permen Gulali, Si Manis Murah Menggoyang Lidah

 

Selain menemui kesulitan harga pakan, para peternak ikan juga terancam punah karena masifnya alih pungsi lahan di kawasan Bojongsoang.

“Dulu di sini banyak sekali kolam, tapi sekarang berubah jadi perumahan. Peternak ikan banyak yang beralih profesi jadi pegawai bangunan atau buruh pabrik,” jelasnya.

Peternak bibit Ikan Mas di Bojongsoang biasa menjual ikan ke wilayah Cianjur dengan harga maksimal 40 ribu per Kg. Namun saat ini harganya kerap menurun, karena ikan yang dihasilkan dinilai berkualitas rendah.

Menurunnya kualitas bibit ikan yang di hasilkan peternak di kawasan Bojongsoang, kata Uwef, di sebabkan beberapa hal, di antaranya kuliatas air yang makin buruk serta bibit berkualitas rendah.

“Sudah bibit jelek, kualitas air juga jelek, ya pasti hasilnya bakal kurang maksimal,” pungkasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Perikanan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bandung, Rosadelina membenarkan bahwa harga pakan ikan dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan.

Namun meski naik, Rosadelina memastikan bahwa petani ikan tetap mendapat laba. “Ya, memang terus naik, tapi saya kira harga tersebut masih membuat petani untung meski tipis,” katanya, Senin. (15/4/2019).

Dinas perikanan juga mengakui bahwa lahan perikanan di Kabupaten Bandung terutama di Bojongsoang terus mengalami alih fungsi lahan menjadi perumahan atau industri.

Akibatnya, peternak bibit ikan mas di Bojongsoang jumlahnya semakin berkurang. “Apalagi sekarang Cirata mau tutul, jumlahnya semakin sedikit,” paparnya. (Restu Sauqi/Bandungkita.id)

Editor: Dian Aisyah

Komentar