by

Pemkab Bandung Gelar “Sabilulungan Ekonomi Kreatif Fair” di Tengah Pandemi

BandungKita.id, SOREANG – Ekonomi kreatif (Ekraf) merupakan salah satu potensi yang dapat memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bandung. Namun karena adanya wabah covid-19, ruang ekspresi dan apresiasi bagi produk ekraf semakin terbatas.

“Potensi ekraf di Kabupaten Bandung cukup melimpah. Mengingat sumber daya alam dan sumber daya manusianya tersedia. Untuk pemasaran pun tidak sulit, karena letak geografisnya sangat dekat dengan pusat ibukota Provinsi Jawa Barat. Namun karena adanya pandemi, mereka tidak memiliki ruang untuk mempromosikan produknya,” ungkap Bupati Bandung Dadang M Naser di sela sela acara Sabilulungan Ekonomi Kreatif Fair (Sabekraf) di Kawasan Gedong Budaya Sabilulungan (GBS), Soreang, Sabtu (19/9/2020).

Guna membangkitkan kembali kreativitas serta produktivitas para penggiat ekraf, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung menyediakan klinik kreatif di kawasan GBS.

“Salah satu wujud keberpihakan pemerintah daerah dalam mewujudkan ekraf adalah dengan membentuk klinik kreatif, yang memanfaatkan salah satu ruangan di GBS,” harap Bupati Bandung.

BACA JUGA :

Banyak Pelanggaran Netralitas, Bawaslu Minta BKPSDM Kabupaten Bandung Fokus Benahi ASN Daripada Sibuk Komentari Bawaslu

Forum Konstituen Gelar Uji Akademik RPJMD Versi Rakyat, Begini Penilaian Para Akademisi⁣

ASN Pemkab Bandung Dipanggil Bawaslu, Kepala BPKSDM: Itu Tidak Benar dan Salah Sasaran!

“Selain bertujuan untuk membangkitkan kembali ekraf, keberadaan klinik kreatif ini juga diharapkan dapat menjadi wadah aspirasi bagi komunitas-komunitas ekraf,” imbuhnya kemudian.

Dadang menjelaskan, enam dari 14 subsektor ekraf Kabupaten Bandung sudah mulai produktif. Antara lain, desain, kerajinan, kuliner, seni pertunjukan, musik dan fashion.

“Enam subsektor tadi sudah ada komunitasnya. Sementara periklanan, arsitektur, film dan video sudah ada komunitasnya, namun masih bersifat sporadis,” jelas Bupati Bandung.

Dirinya berpendapat, ada tiga poin penting dalam pengembangan ekonomi kreatif, yakni branding, sertifikasi dan hak kekayaan intelektual.

“Rata-rata, pengusaha kita hanya memproduksi, tetapi tidak mempunyai branding. Padahal, potensi dan kualitas ekraf yang kita miliki cukup baik, dan tidak kalah dengan produk-produk lainnya, baik di pasar lokal maupun internasional,” ucapnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung, Yosep Nugraha menuturkan, latar belakang diselenggarakannya kegiatan itu adalah mengajak generasi milenial untuk ikut mengembangkan ekraf.

“Generasi muda atau yang kita kenal dengan kaum milenial, merupakan generasi yang memiliki talenta besar dalam pengembangan ekraf. Seperti yang disampaikan pak bupati, saat ini produktivitas ekraf, sedikit terhambat karena adanya pandemi,” papar Yosep.

BACA JUGA :

Baznas Bantu Pemkab Bandung Berantas Rentenir Lewat Program “Surga”, Begini Cara Daftarnya

Sulit Mengurus Pajak Vespa Tua, Sesepuh Komunitas The Legend Scooter Soreang Angkat Bicara

Wow! Kini Hadir di Majalaya, Brand 3Second Berikan Diskon Hingga 50 Persen⁣

“Oleh karenanya perlu strategi yang cerdas dan solutif, agar aktivitas ekraf terus berjalan secara produktif tetapi tetap aman dari penyebaran virus covid-19,” tambahnya.

Dalam penyelenggaraan event Sabekraf pun, pihaknya menerapkan protokol kesehatan pencegahan penyebaran covid-19.

“Sabekraf tahun 2020 sangat istimewa. Karena dalam pelaksanaannya protokol kesehatan menjadi modul atau strategi penyelenggaraan aktivitas di tengah pandemi covid-19,” tandasnya.

Selain terdapat talk show dan bazar produk ekraf, Sabekraf tahun ini juga dimeriahkan dengan e-sport Mobile Legends, lomba seduh kopi, movie clinic, bedah film serta casting. (*)

Editor : Azmy Yanuar Muttaqien

Sumber : Humas Pemkab Bandung

Comment