oleh

Kisah Iim, Pedagang Bungkus Ketupat Musiman Asal Singaparna, dalam Tiga Hari Raup Rp 500-800 Ribu

Bandungakita.id, BANDUNG – Salah satu menu yang tak boleh dilewatkan saat lebaran adalah ketupat. Panganan berbahan dasar beras tersebut hampir selalu ada tiap perayaan lebaran baik di kota maupun di desa.

Bagi warga di pedesaan seringkali ketupat dibuat sendiri, mulai dari memetik daun kelapa, hingga merebus bungkus ketupat yang telah diisi beras.

Namun, berbeda untuk di Kota Besar seperti Bandung, warga memilih membeli bungkus ketupat lantaran dinilai lebih praktis.

Atas dasar itulah, hal itu ada pula warga yang memanfaatkan momen lebaran untuk menjual bungkus ketupat. Pemandangan tersebut salah satunya dapat di temukan di jalan Kiaracondong.

Iim (47) salah seorang penjual bungkus ketupat menjelaskan, ia sengaja jauh jauh merantau ke Kota Bandung saat orang lain mudik hanya untuk menjadi pedagang bungkus ketupat.

Pada 3 hari jelang lebaran ini, kedua tanganya tampat kompak dan cekatan melipat daun kelapa berwarna hijau dengan gradasi putih disulap membentuk tabung sebagai bungkus ketupat yang khas. Harga satu ikat bungkus ketupat berisi 10 bungkus dibandrol dengan harga Rp 6 ribu saja.

BACA JUGA:

Kesulitan Tangani Urbanisasi Pasca Lebaran, Pemkot Bandung Imbau Pendatang Baru Punya Kemampuan

 

1.835 Perantau di Kota Bandung Ikut Mudik Gratis

 

“Ya saya disini setiap tahun jualan bungkus ketupat lumayan bisa dapat 500-800 ribu selama tiga hari,” kata Iim saat ditemui BandungKita, Minggu (2/6/2019).

Bahkan, Iim juga memilih tidur ditempat ia berjualan, dan berencana pulang
ke Kabupaten Tasikmalaya setelah salat id usai. Pria yang biasanya bekerja sebagai kuli harian lepas itu mengaku sudah lebih dari 10 tahun jadi pennjual bungkus ketupat musiman

“Yang beli biasanya orang sini kalau orang kota lebih milih beli dari pada membikin sendiri, kebanyakan sih orang sini aja yang beli mah,” kata Iim

Sementara itu, pedagang lainya Ai (47) menuturkan pedagang bungkus ketupat di area tersebut tinggal bertetangga di Kecamatan Sungaparna Kabupaten Tasikmalaya dan selalu merantau jadi pedagang bungkus ketupat kala lebaran tiba.

“Anak saya dua yang paling besar sudah menikah yang paling kecil masih SMP ada dirumah. Itu yang jualan samping saya juga masih tetangga saya sama, orang Singaparna,” ujar Ai

Meski begitu, Ai mengakui dirinya merasa khawatir ada penertiban namun ia tak punya pilihan lain untuk mencari rezeki ditengah tingginya kebutuhan jelang lebaran.

“Ya takut mah takut (ditertibkan) kan tapi gimana saya butuh buat makan,” ujarnya. (Tito Rohmatulloh/BandungKita.id)

Editor: Dian Aisyah

Komentar